Three Amazing Days with Samsung Galaxy S9 and S9+ (Part 3-End)

Day 3

Lanjutan dari Part 2

Di hari ketiga yang juga merupakan hari terakhir kita di Lombok, kita mendapatkan free time hingga pukul 11.30. Nah tentunya sisa waktu free time ini kita main-main. Hahaha.

Pagi” sekitar pukul 7 an kita sudah berkumpul untuk lagi-lagi bermain air di kolam renang. Sambil sekaligus mencoba mengambil video super slow-mo menggunakan Samsung S9. Yah sekalian iseng-iseng sih, kalau ada yang tanya IP 68 buat apa gunanya, ya salah satunya untuk mengambil foto dan video di kolam renang nih.

Sambil bermain air yang kira” waktunya sekitar 1 jam-an ini Samsung S9 nya bolak balik nyemplung ke dalam air, durasi sekali nyemplungnya itu sekitar 3 menitan mungkin yah  di dalam air, dan dalam pengujian bermain dalam air ini Samsung S9 bekerja dengan lancar, sesudahnya pun tidak ada kerusakan sama sekali.Samsung Galaxy S9 Media Workshop

Sekitar jam 11:30 an kita siap” checkout, dan naik bus menuju ke pemberhentian berikutnya yaitu Desa Sade. Namun sebelum ke Desa Sade kita diajak makan terlebih dahulu di Pipe Dream Villas. Pipe Dream Villas sendiri adalah sebuah resort dan kelihatannya nyaman juga , ada kolam renang yang airnya sangat biru , sayang kita tidak bisa berenang di sini karena sudah packing semuanya, ribet kalo mau renang di sini lagi, dan cuaca seperti biasa, menyengat sangat, sungguh sangat menggoda untuk nyebur ke air yang biru itu.

Setelah makan kita melanjutkan perjalanan ke Desa Sade.

Sade adalah salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak. Suku Sasak Sade sudah terkenal di telinga wisatawan yang datang ke Lombok. Ya, Dinas Pariwisata setempat memang menjadikan Sade sebagai desa wisata. Ini karena keunikan Desa Sade dan suku Sasak yang jadi penghuninya.

Sebagai desa wisata, Sade punya keunikan tersendiri. Meski terletak persis di samping jalan raya aspal nan mulus, penduduk Desa Sade di Rembitan, Lombok Tengah masih berpegang teguh menjaga keaslian desa.

Saat datang ke Desa Sade kamipun disambut dengan tarian lokal Tari Gendang Beleq dan Paserehan

Bisa dibilang, Sade adalah cerminan suku asli Sasak Lombok. Yah, walaupun listrik dan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dari pemerintah sudah masuk ke sana, Desa Sade masih menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok.

Hal itu bisa dilihat dari bangunan rumah yang terkesan sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah. Orang Sasak Sade menamakan bangunan itu ‘bale’.

Pemandu lokal kami berkata ada delapan bale yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bale-bale itu sendiri dibedakan berdasarkan fungsinya.

Baca juga : Three Amazing Days with Samsung Galaxy S9 and S9+ (Part 2)

Uniknya, warga desa punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. “Sekarang sebagian dari kami sudah bikin plester semen dulu, baru kemudian kami olesi kotoran kerbau kata pemandu lokal kami.

Konon, dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan dijauhi nyamuk. Bayangkan saja, kotoran itu tidak dicampur apa pun kecuali sedikit air.

Referensi : https://id.wikipedia.org/wiki/Sade,_Lombok_Tengah

Di sepanjang perjalanan kami di Desa Sade, kami melihat banyak penenun kain sasak dan penjual kopi sasak, juga ada beberapa yang menjual souvenir, salah satunya adalah akar bahar.

Akar bahar sendiri adalah tanaman bawah laut yang termasuk terumbu karang. Para penduduk Desa Sade ini membentuk akar bahar menjadi gelang untuk dijadikan souvenir. Selain sebagai souvenir, akar bahar juga dipercaya dapat menjadi obat.

Selepas dari desa Sade kami melanjutkan perjalanan ke tempat membeli oleh-oleh. Dan di saat itu juga, berita itu datang…

Yak, mungkin beberapa dari kalian bisa menduganya, pesawat kami mengalami delay, dari yang seharusnya jam 18:50 , menjadi jam 21:30.  Ini kayanya buah keinginan Reza yang sebelumnya sempat berkata “tinggalkan saya di Lombok saja” , atau mungkin juga buah keinginan Yoga yang berkata “wah, harus cobain nasi balap puyung”. Dan kesampean juga, kita makan di nasi balap puyung yang terletak dekat dengan bandara.

Selesai mengisi perut kami berangkat ke bandara, di mana di situ lagi-lagi kita mendapatkan berita kalau pesawat delay lagi sampai jam 22:30 , LoL

Yah, seru juga sih, jadi ada bahan cerita buat dibagikan, plus di bandara juga kita cerita-cerita lagi, kongkow bareng di coffee shop dekat sana, melihat-lihat buku, mabar, tidur-tiduran. Sampai akhirnya kita disuruh boarding sekitar jam 22:30.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah tiga hari kita mengikuti Samsung S9 Media Workshop, banyak pengalaman lucu dan unik, serta pembelajaran yang intensif.

Seiring berakhirnya perjalanan kita, berakhir pula lah cerita kali ini.

Terima kasih Samsung sudah mengundang saya dan rekan-rekan untuk menghadiri workshopnya. Ditunggu undangannya untuk acara berikutnya yah 😀

Mikhail signing out. –peace-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *