Three Amazing Days with Samsung Galaxy S9 and S9+ (Part 2)

Day 2

Lanjutan dari Part 1

Hari kedua dilanjutkan dengan sesi dari Mr David Soong menjelaskan tentang dual aperture yang dimiliki oleh Samsung Galaxy S9 dan S9+, dimana aperture f/1.5 digunakan secara otomatis di dalam keadaan kondisi cahaya yang kurang dan aperture f/2.4 digunakan secara otomatis di kondisi cahaya yang cukup.

Samsung Galaxy S9 Media Workshop

Mr David juga memberikan tips pengaturan Pro untuk menghasilkan foto yang bagus yaitu :

  1. Atur nafas

Meski telah dilengkapi image stabilizer, tangan yang stabil menjadi kunci utama untuk mengurangi blur.

  1. Bersandar pada objek lain

Untuk menjaga posisi kita tetap stabil, kita bisa bersandar pada objek yang tidak bergerak semisal tembok ataupun pohon.

  1. Dekatkan smartphone dengan dada

Bila tidak bisa bersandar, ada trik lainnya, yakni dekatkan smartphone dengan dada, cara ini lebih efektif untuk meredam “shaky hand” dibanding meng-capture sambil mengulurkan tangan ke depan.

Samsung Galaxy S9 Media Workshop

Setelah itu sesi dilanjutkan oleh Putri Anindya, beliau selaku travel photographer memberikan tips dan trik untuk menghasilkan foto yang “catchy” untuk diupload di social media.

  1. Jaga kebersihan lensa

Meski terdengar sepele , lensa memegang peranan penting dalam proses pengambilan gambar, lensa yang kotor akan mempengaruhi gambar yang dihasilkan. Maka dari itu selalu jaga kebersihan lensa.

  1. Hadirkan leading lines

Leading lines adalah garis-garis dalam gambar yang membimbing mata menuju fokus gambar , dan memberi efek sense of depth atau kesan jauh. Contohnya ini adalah gambar garis pantai, jalan lurus yang terbentang di hadapan, atau tiang-tiang yang berderetan.

  1. Perspektif yang beragam

Jangan selalu mengambil gambar dari satu perspektif, cari perspektif lain, misal dari pinggir genangan air, atau dekatkan lensa sedekat mungkin dengan lantai untuk mencari perspektif lain, coba berbagai macam perspektif.

  1. Bingkai gambar dengan frame

Tempatkan objek utama anda dalam “frame”. Bukan, bukan frame yang bisa dibeli begitu saja , tapi “frame” natural, bisa berupa jendela, daun pohon , celah di antara pintu, atau bahkan mungkin tangan sendiri.

  1. Temukan keunikan setiap momen

Tentukan satu objek yang menjadi highlight dari foto anda. Manfaatkan fitur live focus dan dual camera untuk menghasilkan foto bokeh.

  1. Berikan caption

Tambahkan caption yang menarik untuk mendukung keindahan gambar yang telah kita ambil. Sepotong puisi, cerita di balik gambar tersebut, akan memberikan nilai emosional lebih kepada yang melihatnya.

  1. Nikmati dengan mata

Terakhir, jangan hanya berfokus mengambil foto saja, tapi juga nikmati keindahan tersebut dengan mata anda. Upload nanti saja (kalo ada wi-fi gratisan lebih baik sih), foto tidak ke mana-mana.

Setelah sesi sharing dari Mr David dan Puan , kita lalu diajak mencoba mengambil epic moment lagi , tapi kali ini bukan bermain air yah , kali ini kita diajak mengambil epic moment untuk event sport (tepatnya bermain voli), pre-wedding session , serta beauty moment.

Benar kata Mr David, practice makes perfect. untuk menghasilkan video maupun foto yang bagus dibutuhkan latihan berkali-kali. Entah berapa banyak seminar yang telah diikuti kalau tidak pernah latihan itu percuma.

Setelah berpanas-panasan ria (entah matahari buka cabang baru di mana), kita kemudian diajak untuk mengunjungi bukit merese, di bukit ini kita diajak untuk berburu foto sunset. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja dari lokasi tempat kita menginap.

Sesampainya di sana kita langsung mendaki bukit Merese, karena seperti yang kita tahu, kalau kelewatan momentnya ga bakalan bisa dapet lagi kan , yah walaupun matahari banyak tapi sunset sehari cuman sekali kan hahaha.

Baca juga : Three Amazing Days With Samsung Galaxy S9 and S9+ (Part 1)

Nah perjalanan balik dari bukit Merese ke bus agak menyeramkan nih , karena sinar matahari sudah tidak ada dan bukitnya sendiri cukup terjal, akhirnya turun ke bawah sambil menyalakan senter dan berjalan berdampingan soalnya serem kalo sendiri-sendiri.

Lanjut kita dibawa ke Asthari untuk menikmati makan malam dan menjajal sesi low light. Kali ini sesi low lightnya sendiri ada dua, yakni sesi makan lilin enteng (candle light dinner) dan sesi yoga.

Pada sesi ini kita “dipaksa” menggunakan aperture f/1.5 soalnya cahayanya sangat sangat minim. Dan yang paling menantang adalah sesi foto yoga, karena saat itu pencahayaan hanya dibantu oleh 5 lilin yang ada di sekeliling performer.

Setelah sesi low light dan bercanda ria, kamipun dibawa kembali ke hotel untuk kemudian istirahat (tapi kita berenang lagi sih sampe kira” jam 1, gile panasnya amit amit) .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *