Aku, Pare, dan Pahitnya Kehidupan

Ada yang follow saya di facebook? Kalau ada, mungkin tahu betapa bencinya saya dengan makhluk satu itu yang disebut pare. Entah kenapa banyak orang yang suka dengan rasa pare yang pahit-pahit semeriwing itu. Nah balik, jadi apa hubungannya antara pare dengan artikel ini?

Oke, balik dulu ke soal pare, kenapa pare? Karena pare itu salah satu makanan yang saya benci. Entah dirasuki oleh apa sehingga para pembuat siomay memasukkan menu pare menjadi salah satu menu standarnya di seluruh jagat raya ini. Dari segitu banyaknya makanan yang lain kenapa harus ada pare di antara menu siomay itu?

Ketika saya menanyakan hal senada di facebook saya ada yang setuju dengan saya dan ada juga yang kontra dengan saya, ada yang merasa kalau pare itu pahit banget sampai bahkan mendengar kata pare pun sudah terasa pahitnya, tapi ada juga yang suka rasa pahit getirnya pare, malah ada yang bilang rasa pare ada manis-manisnya pula. Entahlah lidah mereka terbuat dari apa, saya bahkan bingung apa mereka memiliki sensor rasa pahit yang masih normal atau tidak.

Tapi ada satu komentar yang menarik perhatian saya, yakni “pare, kalau bisa dimasaknya, ga pahit loh”

Ini tentunya menimbulkan rasa penasaran tersendiri. Pare, yang memang sudah kodratnya rasanya pahit, kok diolah lagi sehingga rasanya ga pahit? Maksud saya, ngapain susah-susah mengolah sesuatu yang memang sudah pahit menjadi tidak pahit? Bukankah itu membuang-buang waktu dan tenaga? Saya dengar-dengar sekilas juga teknik untuk mengolah pare dari pahit sehingga menjadi tidak pahit ini caranya cukup susah.

Lalu tidak lama kemudian, teman saya ada yang membawakan pare kari hasil olahan ibunya. Dengan ragu-ragu tapi pasti saya memberanikan diri mencoba pare kari ini…Dan rasanya…

Surprisingly enak.

Beneran, enak, rasa pare yang pahit itu hanya terasa sedikit sekali, tertutup oleh nikmatnya rempah-rempah lain yang ada di kari tersebut. Apalagi dicampur dengan nasi putih hangat, mantap tenan rasanya.

Sejenak langsung saya teringat pada kata-kata teman saya “pare itu getir mik, getir segetir pahitnya kehidupan” dipikir-pikir benar juga yah. Dalam hidup ini tidak semua hal akan terasa manis, tidak semua yang kita rencanakan akan berbuah manis. Bisa saja buahnya pahit, sama seperti pare, atau seperti mukamu saat cemberut.

Dan sama seperti pare, getirnya kehidupan masih bisa “diolah” sehingga rasa pahitnya tidak terlalu berasa lagi, bahkan bisa diolah menjadi sayur yang enak untuk dimakan bersamamu menemani hari-hariku.

Aduh, ngomong apa saya ini, jadi sebenarnya sih saya hanya ingin ngomong kalau sepahit apapun kehidupan, kita harus bisa “mengolah” kepahitan itu, jangan biarkan rasa pahit itu menjatuhkanmu.

Terimakasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan yang tidak berfaedah ini.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam ketika saya menulis. Saatnya tidur. Selamat malam semuanya.

miQ – 28 Agustus 2017 – waktu Indonesia tidur segan bangun pagipun tak mau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *